===Welcome to DB5K's Zone ===

+++ Welcome to TVXQ Always Keep The Faith..!!! +++
Ini hanya sebuah blog tempat kami (Saa, Syaoran, dan Afri) mengabadikan karya2 DB5K, Duo TVXQ, and JYJ yang luar biasa. Semua video, link DL, bukan hasil upload-an kami. Kami hanya mencoba mengkoleksi link dan membuatkan sinopsis video bagi yg belum sempat melihat. Kami tidak memposting news, karena sudah banyak blog cassie lain yg membuatnya, silahkan berkunjung ke DBSKCassIndo untuk update info TVXQ terbaru... See u, smile with TVXQ and always keep the faith..!!

[Sinopsis] TVXQ Vacation : Beautiful Life (Episode 2)


Staring:
Xiah Junsu
Max Changmin
Park Hee Bon as Young Shim




credit: H3ROJ3J3

Lama-lama capek nangis and galau terus... mau liburan dulu sama Ayang Changmin and selingkuhan baruku Oppa Junsu... ekeke.. (Cuma sementara bis demen banget lagu you’re so beautifulnya Oppa Junsu)... Episode Vacation kali ini (Beautiful life) adalah yang paling lucu menurutku.. jadi semoga bisa juga membuat kalian yang sedang galau tersenyum lagi... Mari kita mulai saja..

Ayang Changmin dan Oppa Junsu menghabiskan masa liburan mereka bersama. Mereka menumpang motor traktor yang bagian belakangnya dapat mengangkut penumpang. (Disini banyak oppa motor kayak gitu maen disini aja).
"Hyung! Junsu Hyung bangun! Kita sudah hampir sampai. Hyung! Kita hampir sampai. Bangun!" kata Ayang Changmin mencoba membangunkan Oppa Junsu yang tertidur dalam perjalanan.
Oppa Junsu mulai membuka matanya, menikmati udara pedesaan dan berkata "Tidak akan ada yang bisa mengenali kita di sini kan?".
"Tentu saja. Mereka yang tinggal disini rata-rata sudah berusia lanjut dan hanya ada 23 orang yang tinggal disini” Jawab Ayang Changmin.
"Benarkah?! Akhirnya kita melarikan diri dari kerumunan orang dan mendapatkan kebebasan sejati" kata Oppa Junsu senang.
"Pak, kita akan turun di sini" teriak Ayang Changmin kepada pengendara motor traktor itu saat mereka sudah sampai.

Pengendara motor traktor pun menepikan motornya. Oppa Junsu beranjak turun dari motor tersebut dengan meloncat ke bagian samping motor. Tapi tiba-tiba dari arah belakang ada sepeda datang, Kakek pengendara sepeda itu kaget melihat Oppa Junsu yang tiba-tiba ada di depannya. Ia oleng dan jatuh tak bisa berdiri. Oppa Junsu dan Ayang Changmin kaget melihat kejadian itu.

Karena merasa bersalah Oppa Junsu dan Ayang Changmin mengantar kakek pengendara sepeda itu pulang kerumahnya. Oppa Junsu dan Ayang Changmin menunggu di luar saat kakek pengendara sepeda tadi sedang dibekam oleh istrinya.
"Aigoo! Anda seharusnya lebih berhati-hati" kata sang nenek sambil membekam suaminya.
Sang Kakek menjawab "Aku sudah berhati-hati, tapi anak-anak itu tiba-tiba ada didepanku tak tau dari mana datangnya. Aku tidak bisa menghindar"
"Ajushi bukan seperti itu" sela Ayang Changmin karena merasa dipojokan.
"Hei! Saya benar-benar menyesal" kata Oppa Junsu menengahi.
"Kita punya masalah. Siapa yang akan mengirim surat-surat ketika Anda berbaring di sini seperti ini?" kata nenek khawatir.
"Aku tahu. Aku akan senang jika seseorang melakukannya untuk ku" pancing kakek sambi melihat kearah Oppa Junsu dan Ayang Changmin.
"Orang-orang di desa ini sudah tua semua, siapa yang akan melakukannya?" jawab nenek.
"Bisakah kami melakukannya?" kata oppa Junsu menawarkan diri.
"Benarkah?" seru kakek dan nenek senang.

Oppa Junsu dan Ayang Changmin akhirnya tinggal dirumah kakek tadi.

Pagi harinya Ayang Changmin dan oppa Junsu sudah bersiap pergi. Ayang Changmin mengenakan seragam tukang pos (bisa bayangin..Ayang Changmin pake seragam jadul...kalo yg dah nonoton pasti bisa..tapi tetep keren kok Ayang.. hehe).
Oppa Junsu tersenyum meledek penampilan Ayang Changmin tapi saat di dekat Ayang Changmin dia berkata "Kau tampak keren!".
"Hyung tidakkah ini terlalu berlebihan!" kata Ayang Changmin sedikit ragu menggantikan tugas kakek mengantar surat.
"Lalu apakah aku yang harus melakukannya? (lha iyalah Oppa, kan Oppa yang menyebabkan kakek itu jatuh bukan Ayang Changminq) Cepat sana pergi!” kata Oppa Junsu.
Oppa Junsu mendorong Ayang Changmin kesepedanya dan membantunya memakaikan tas tukang pos. Ayang Changmin meski ragu mulai melangkah kan kakinya mengantar surat.
“Bagus. Bekerjalah dengan baik! Kau tampak keren! Semoga perjalananmu menyenangkan! Hati-hati anjing!” Oppa Junsu terus memberi semangat kepada Ayang Changmin.
“Ah ... apa yang harus aku lakukan" kata Oppa Junsu saat Ayang Changmin sudah tidak kelihatan.

Oppa Junsu akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan keliling desa. Sambil minum minuman kaleng dan bernyanyi-nyanyi, ia mengeliliingi desa. Saat di tengah persawahan kaleng minumannya habis dan Oppa Junsu pun membuangnya sembarangan. Lalu tiba-tiba Oppa Junsu ingin buang air kecil, ia melihat kesekelilingnya dan berkata "Tidak ada orang di sini kan?”.
Dan akhirnya ia buang air kecil dipersawahan itu sambil bergumam “Ini adalah tempat yang tepat untuk ini (buang air kecil)". (hihi gak bisa bayangin seorang superstar buang air sembarang.. jagan ditiru ya)
Tiba-tiba dari areal persawahan muncul seorang gadis dan memandangi bagian bawah Oppa Junsu (hua..kalian tau bagian mana kan.. bagian "itu".. hehe).
"Huh .. Aish!" Oppa Junsu berteriak kaget dan buru – buru menutup bagian bawahnya karena malu (ekeke) dan segera melarikan diri.
Tapi tiba-tiba gadis itu memanggilnya.
"Tunggu. Apakah kau melakukan ini?” kata sang gadis sambil menunjukan kaleng minuman yang dibuang Oppa Junsu tadi.
“Apakah kau pikir ini adalah tempat sampah, dasar bbundaegi?" lanjut gadis itu.
"Apa? Bbundaegi? Hei!" teriak oppa Junsu tak terima dikatai Bbundaegi (btw bbundaegi apaan ya.. wkwkw).
Gadis itu pun tak terima diteriaki, ia melempar kaleng itu dan mengenai dahi Oppa Junsu.
"Berani-beraninya kau marah padaku!" bentak gadis itu kemudain pergi.
"Hei" teriak oppa Junsu.

Ayang Changmin berkeliling desa dengan mengendarai sepeda ia mengantar surat dari rumah ke rumah. Saat Ayang Changmin mengantarkan sebuah surat sesuatu terjadi.
"Maaf, Kim Bong Yul-shi ada? Apakah ada orang di sini? Permisi, apakah ada orang di sini?" teriak Ayang Changmin memanggil pemilik rumah.
Tiba-tiba seorang nenek, kita sebut saja nenek A datang sambil membawa clurit dan berkata "Siapa kau?".
Ayang Changmin kaget dan sedikit takut.
Pelahan ia mulai berkata "Halo, saya pengantar surat, Kim Bong Yul tinggal disini kah?".
Dari arah samping tiba-tiba muncul lagi nenek-nenek, kita sebut saja nenek B dengan pisau potong besar ditangannya.
Nenek B berkata "Aku Kim Bong Yul, siapa namamu?".
Ayang Changmin makin ketakutan ia mencoba menjelaskan siapa dirinya dan kejadian yang menimpa kakek tukang pos. Tapi saat Ayang Changmin menjelaskan nenek A yang memegang clurit tadi mendekati Ayang Changmin dan membelai wajahnya sambil berkata "Kau tampak begitu cantik, Apakah kau seorang pria?".
Nenek B pun mendekat dan berkata "Biarkan aku menyentuh itu" (wkwk.. kalian taulah apa "itu" yang dimaksud.. sama kayak bagian bawah tadi.. hehe).
Tentu saja ayang Changmin reflek melindungi miliknya dan melangkah mundur, tapi lagi-lagi muncul nenek-nenek. Kita sebut saja nenek C, nenek C sudah siap dibelakang dan memegang pantat ayang Changmin (Hua.. nenek.. apa yang kau lakukan.. kau mengurangi keperjakaan Ayang Changminq..)
Nenek C berkata "Pantatmu cantik juga" (wkwk).
"hua ....." teriak Ayang Changmin menggeparkan desa karena diserang nenek-nenek dari berbagai arah (hihi..).

Perjalanan Ayang Changmin mengantar surat hari ini benar-benar berat, ia terkadang harus menuntun sepedanya saat jalanannya menanjak. Jadi ia sangat senang saat tinggal satu surat lagi yang harus ia antarkan. Ayang Changmin mengambil surat terakhir itu, tapi ia heran karena surat itu tidak ada perangkonya. Ayang Changmin tetap memutuskan mengantarkannya karena ia sudah sampai di depan rumah penerima surat itu. Ia pun memanggil pemilik rumah, “Apakah ada orang di sini? Apakah ada orang di sini? Aku membawa surat. Apakah ada orang di sini?”.
Seorang nenek keluar dengan menggunakan tongkat (ah! Lagi-lagi seorang nenek). Ayang Changmin segera menghampirinya dan berkata dengan ramah “Halo, Anda Kim Won Nyu? Ini ada surat untuk anda. Baiklah saya pergi dulu, Anyeonghaseo".
Tapi nenek itu menarik tangan Ayang Changmin, ternyata ia ingin Ayang Changmin membacakan surat itu untuknya.

Ayang Changmin mulai membaca surat dan nenek itu mendengarkan dengan baik.
"Ketika saya berbicara tentang Anda, istri saya memberitahu saya agar saya mengunjungi Anda. Aku sangat merindukanmu nenek. Jaga kesehatanmu dan saya akan menulis lagi. Selesai” kata Ayang Changmin, nenek itu menangis terharu mendengar isi surat itu.
Ayang Changmin pun pamit pergi karena hari sudah larut malam. Tapi sebelum pergi Ayang Changmin sempat menoleh dan melihat nenek Kim Won Nyu menangis senang sambil memeluk suratnya.

Ayang Changmin sudah sampai rumah.
"Saya kembali. Hyung, ada apa dengan dahimu?" kata Ayang Changmin saat melihat Oppa Junsu memegangi dahinya.
"Sesuatu terjadi" jawab oppa Junsu singkat.
Di dalam rumah ada kakek tukang pos yang sedang istirahat.
"Ajushi, apakah aku harus meminta uang untuk surat yang ditujukan untuk nenek Kim Won Nyu? Tidak ada perangko disana!" tanya Ayang Changmin pada kakek.
"Oh tidak usah. Aku akan memberitahumu, surat itu aku yang menulis" jawab kakek
"Apa?" teriak Ayang Changmin kaget.
"Aku tidak punya pilihan, menerima surat dari cucunya adalah hidup baginya" terang kakek.
"Apa ia tidak memiliki cucu yang sebenarnya?" tanya Oppa Junsu
“Tentu saja punya. Dia merawatnya sampai cucunya berumur 7 tahun" ternag kakek lagi.

Saat akan tidur, Oppa Junsu dan Ayang Changmin tidak bisa tidur. Ayang Changmin masih kepikiran nenek Kim Won Nyu yang begitu senang mendapat surat dari cucunya. Sedangkan Oppa Junsu tidak bisa tidur karena mengingat kejadian di persawahan tadi, saat gadis itu melihat bagian bawahnya (ekeke).
"Aish sungguh memalukan!" teriak oppa Junsu tiba-tiba dan memeluk Ayang Changmin yang berbaring disampingnya (Oh no.. oppa lepaskan).

Keesokan harinya Ayang Changmin sudah berangkat mengantarkan surat lagi. Tapi kali ini ia harus menurunni bukit sehingga sepedanya sulit dikendalikan dan ia pun jatuh saat ada sebuah batu ditengah jalan.
"Aish! Junsu hyung!" kata Ayang Changmin kesal.

Saat Ayang Changmin bekerja keras mengantar surat, lagi-lagi oppa Junsu bersenang-senang mengelilingi desa. Kali ini ia berjalan disekitar sungai.
"Wow! Airnya sungguh dingin” gumam Oppa Junsu yang langsung bermain air.
Tapi tiba-tiba ia melihat sesuatu terbawa arus sungai. Dengan sebiah tongkat Oppa Junsu mengambil sesuatu itu dan ternyata sesuatu itu adalah underwear wanita. Oppa Junsu melihat kesekeling mencari pemiliknya. Dari balik batu Oppa Junsu melihat, gadis yang kemarin bertengkar dengannya sedang mencuci baju disungai.
“Okey, saatnya membalas dendam” gumam oppa Junsu.
Dengan usilnya Oppa Junsu menggantung underwear tadi pada ujung tongkat kemudian seperti gaya memancing ia mengarahkan tongkat itu tepat di atas kepala gadis tadi. Gadis tadi tentu saja melihat underwearnya. Oppa Junsu makin usil, menggoyang-goyangkan tongkat itu sambil bernyanyi-nyanyi tentang underwear milik seorang gadis yang tergantung di ujung tongkat. Gadis itu tentu saja kesal sekaligus malu diperlakukan seperti itu. Sebelum gadis itu meledak Oopa Junsu membuang tongkat itu dan melarikan diri setelah mengejek gadis itu.
Gadis itu benar-benar kesal, ia mencoba memanggil oppa Junsu.
"Hei kau, tetap disana" teriak gadis itu sambil mengambil sebuah batu.
Oppa Junsu menoleh kearah gadis itu tepat ssat gadis itu melempar batu.
“Hua” teriak Oppa Junsu tak bisa menghindar.

Ayang Changmin masih bekerja. Kali ini, ia berjalan kaki. Tiba-tiba ia melihat nenek Kim Won Nyu duduk ditepi jalan sendirian. Ayang Changmin pun segera menghampirinya.
"Nenek! Mengapa Anda sendirian?” tanya Ayang Changmin ramah, tapi nenek itu tak menjawab ia hanya tersenyum sambil menjukan sebuah surat kepada Ayang Changmin.

Oppa Junsu kali ini yang pulang terakhir. Di rumah Ayang Changmin sedang memijat kakek. Oppa Junsu duduk diteras sambil memegangi matanya.
"Hyung, Ada apa dengan matamu sekarang?" tanya Ayang Changmin saat melihat Oppa Junsu.
"Jangan tanya!” jawab Oppa Junsu singkat.
Ayang Changmin sudah selesai memijat, ia memandangi sebuah surat.
“ Apa itu?" tanya Oppa Junsu.
"Hyung, kita punya masalah. Nenek Kim akan ulang tahun ke-80 sebentar lagi dan dia ingin cucunya datang " jawab Ayang Changmin.
"Apa?" kata Oppa Junsu kaget.
"Aigoo. Anak kurang ajar itu. Akan lebih baik jika aku tahu nomor teleponnya" kata Kakek yang juga ikut khawatir.
"Tapi saya rasa, ia juga tidak akan datang meski kita memanggilnya" kata Ayang Changmin.
"Itu benar. Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa pergi ke suatu tempat dan membuat cucu palsu kan?" kata Kakek putus asa.
Ayang Changmin dan kakek tertunduk lesu, tapi tiba-tiba keduanya melihat ke arah Oppa Junsu.
"Apa!? Mengapa kau menatapku?" kata Oppa Junsu.
Ayang Changmin dan kakek tersenyum lebar karena mendapat suatu ide.
"Benar! Tapi bagaimana dengan istrinya? Dalam surat dikatakan dia sudah menikah" kata Ayang Changmin tiba-tiba kepada kakek.
"Ya, Itu benar. Lalu bagaimana?" kata kakek khawatir lagi.
Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis.
"Kakek apakah kau ada? Aku membawa beberapa kentang untukmu" kata gadis itu sambil tersenyum. Dan ternyata gadis itu adalah gadis yang bertengkar terus dengan Oppa Junsu.
Ayang Changmin dan kakek memandangi gadis itu, kemudian memandangi Oppa Junsu sebelum kemudian saling pandang dan tersenyum lebar.

Beberapa saat kemudian dari penjuru desa terdengar suara teriakan "Andweee!" yang keras. Teriakkan itu berasal dari Oppa Junsu dan gadis itu, mereka kaget dan langsung menolak saat diberitahu kalau mereka cocok berperan sebagai suami istri cucu nenek Kim.

Keesokan harinya rapat desa diadakan disebuah area terbuka. Seluruh warga desa datang. Seorang nenek berpendapat meski nenek Kim sudah pikun tapi ia akan tetap mengenali darah dagingnya sendiri. Para orang tua lain membenarkan itu dan mulai putus asa lagi.
"Tapi kita masih memiliki beberapa waktu sampai ulang tahun ke-80 nenek Kim tiba, jadi para orang tua disini bisa mengajari mereka sampai waktunya tiba" kata Ayang Chnagmin memberi ide cemerlang.
Disisi lain Oppa Junsu dan Gadis itu masih saja bertengkar sambil mendorong tubuh masing-masing.
"Ya, kita bisa" jawab kakek setuju.
"Aku pikir kau hanya punya pantat yang cantik tetapi kau juga cerdas" kata nenek C yang dulu memegangi pantatnya. (Ya nenek baru tau ya.. IQ Ayangku kan 150)
"Saya tidak ingin melakukannya" kata Oppa Junsu tiba-tiba.
"Apa yang kau bicarakan hyung?" tanya Ayang Changmin
"Aku bisa bertahan dengan semuanya, tapi aku tidak bisa berakting menikahi seorang wanita manja seperti dia" kata Oppa Junsu
"Apa? Wanita manja? Apa kau ingin mati?" balas gadis itumtak terima.
"Ya, Kau pantat besar" jawab Opap Junsu.
"Bbundaegi, apa yang akan kau lakukan?" balas lagi gadis itu.
Ayang Changmin heran melihat mereka bertengkar terus tapi kakek malah senang.
"Jadi ini adalah keputusan yang benar! Yang perlu kita ajarkan pertama adalah tentang silsilah keluarga dan tradisinya" kata Kakek mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan Oppa Junsu dan Gadis itu (Mian namanya ga jelas sih di awal hehe).

Pelajaran mengenal silsilah keluarga Kim pun dimulai. Kakek memberikan sebuah buku tebal kepada Oppa Junsu yang harus dihafalkannya.

Sementara itu seorang nenek menjelaskan bahwa dulu YoungHo (nama cucu nenek Kim) sangat jago menari katak dengan kaki dan nenek Kim sangat senang melihatnya. Oppa Junsu pun harus berlatih menari katak di depan nenek ABC (gerakan tangannya kayak orang utan sambil kakinya membuka dan menutup.. Aih bisa kalian bayangkan sendiri dah.. hehe). Karena baru latihan pertama Oppa Junsu masih malu-malu, sehingga membuat nenek ABC tidak puas (hehe..).

Kemudian Oppa Junsu juga harus berlatih menggunakan tangan kiri karena YoungHo kidal. Latihan dilakuakn didepan nenek ABC, kakek dan Ayang Chnagmin. Tangan kanan Oppa Junsu diikat agar tidak ikut begerak, kemudian dengan tangan kirinya Oppa Junsu harus mengambil kacang dengan sumpit. Tentu saja gagal dan Kakek pun langsung memukul kepalanya dengan tongkat (wkwk.. gantian oppa Junsu yang tersiksa sekarang.. hehe)
"Sakit, mengapa kau memukulku?" kata Oppa Junsu.

Satu malam Oppa Junsu tiba-tiba kebelet kencing tapi saat ia memasuki kamar mandi. Kamar mandinya bau, ia pun memutuskan untuk buang air di luar lagi. Ia melihat sekeliling dan tidak ada orang.
"Kau benar-benar punya kebiasaan penjahat ya? Kau harus mencuci otakmu itu" kata seorang Gadis tiba-tiba dari arah belakang (Di desa ini cuma ada satu gadis jadi kalian tau kan gadis mana yang dimaksud).
"Aish memalukan" kata Oppa Junsu malu karena dua kali kepergok buang air sembarangan oleh gadis yang sama.

Keesokan harinya.

"Semuanya terserah padamu. Apakah kau sudah siap?" kata kakek sebelum memulai latihan terakhir.
"Saya akan melakukan yang terbaik" jawab Oppa Junsu.
Kakek menggertakan tongkatnya.
Oppa Junsu mengulangi lagi kali ini dengan aksen bahasa setempat.
Kakek senang, dan latihan menghafal silsialh keluarga pun berjalan lancar.

Latihan menari katak juga sudah dikuasai Oppa Junsu dengan baik dan dilakukan tanpa malu-malu lagi sehingga membuat nenek ABC senang dan tertawa terpingkal-pingkal.

Latihan memakai tangan kiri pun sudah bisa. Oppa Junsu jadi besar kepala karena di puji nenek-nenek terus. (wkwk... penngemar oppa dari anak kecil sampai nenek-nenek nih)

Tapi saat latihan silsilah kelurga lagi tiba-tiba nenek B ingat sesuatu.
"Tunggu!" kata Nenek B.
"Apa?" kata kakek.
"YoungHo memiliki bekas luka di bahunya" kata nenek B.
"Itu benar. Ketika dia berusia 5 tahun, bahunya terluka kena clurit saat ia bermain" kata nenek A.
“Apa clurit?” kata Oppa Junsu kaget.
"Jangan khawatir" kata Nenek C tersenyum sambil tangannya mengasah clurit.
"hua!!!!" teriak oppa Junsu ketakutan.

Hari ulang tahun nenek Kim pun tiba. Sebuah pesta besar diadakan oleh warga di lapangan terbuka. Pesta dihadiri oleh semua warga dan ada juga para pemain musik di sana. Ayang Changmin sibuk menyambut para warga. Sedangkan nenek Kim duduk ditengah pesta sambil terus memandangi dari surat cucunya dan raut muka penuh harap kedatangan cucunya.
"Kenapa dia tidak datang?” kata nenek Kim.
Kakek datang menghampri dan berkata “Jangan khawatir. Dia akan membawa istri yang cantik. Jangan khawatir. Tetap tenang".

Kakek memberi kode agar Ayang Changmin segera memanggil oppa Junsu. Ayang Changmin pun mengerti dan segera berlari pergi.

Sementara itu Oppa Junsu dengan setelan baju resmi tapi gaya kuno sedang menunggu disebuah gang (Haha pakainnya bener2 jadul).
"Apa ini?" gumam Oppa Junsu mengomentari penampilannya sendiri.
"hahaha ..." Ayang Changmin tertawa melihat penampilan Oppa Junsu (1-1 oppa kemarin kau menertawai penampilan Ayang Chnagminq).
"Apa yang kau tertawa?" kata Oppa Junsu kesal.
"Hyung, itu benar-benar terlihat keren untukmu. Dimana Youngshim shi?" tanya Ayang Changmin sambil mencari-cari (o... nama gadis itu Youngshim..ok..ok.. aku tahu sekarang).
"Aku tidak tahu. Mungkin dia melarikan diri" jawab Oppa Junsu sekenannya.
Tapi tiba-tiba dari ujung gang Youngshim datang. Ia telah berpenampilan rapi dan bergaya seperti gadis-gadis jaman dulu (Emang jaman sekarang kayak apa mit?).
Ayang Changmin dan Oppa Junsu terperangah melihat penampilan baru Youngshim, tapi tentu saja Oppa Junsu yang paling terperangah.
"Apa yang kau lakukan? Ayo kita pergi” kata Ayang Changmin menyadarkan Oppa Junsu.
“Youngshim-shi sini!” pangggil Ayang Changmin kepada Youngshim.
Youngshim mendekat.
“Mengapa pasangan yang sudah menikah seperti ini?” kata Ayang Changmin yang melihat Oppa Junsu dan Youngshim kikuk, Ayang Changmin membuat Oppa Junsu menggandeng Youngshim (haha.. ada makcomblang baru).
“Ayo pergi!" kata Ayang Changmin pada mereka.
Ayang Changmin berjalan terlebih dahulu, diikuti Oppa Junsu dan Youngshim yang berjalan bergandengan.

show time...

Oppa Junsu langsung menghampiri nenek Kim begitu sampai di tempat pesta.
"Nenek! Ini aku YoungHo. Apakah kau tidak ingat aku? Suami Anda adalah ...dan putranya adalah ... Aku YoungHo. Apakah kau ingat ini? Kau sangat menyukainya ketika aku masih muda” kata Oppa Junsu mencoba membuat nenek Kim yakin ia adalah cucunya dengan menarikan tarian katak.
Tapi nenek Kim masih tampak ragu. Kakek memberi isyarat agar oppa Junsu menunjukan luka dibahunya.
“ Oh iya. Nenek lihat bekas luka ini. Aku mendapatkannya ketika aku berusia 5 tahun, ketika aku terkena clurit" kata oppa Junsu sambil menunjukan bekas lukannya.
Nenek Kim diam saja, semua orang tegang menunggu reaksi nenek Kim. Tapi akhirnya nenek Kim bereaksi, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Oppa Junsu. Ia mengamati wajah Oppa Junsu dan setelah yakin Oppa Junsu adalah cucunya akhirnya ia memeluknya. Semua orang senang melihat hal itu, termasuk oppa Junsu.
"YoungHo akhirnya kau datang. Kau masih tampak sama seperti dulu. Apakah ini Istrimu? " kata kakek sambil menggeret Youngshim kearah nenek Kim.
"Ya" awab Oppa Junsu.
Youngshim memberi hormat kepada nenek Kim, dan nenek Kim sangat senang melihat cucu menantunya.
"Nenek, kau mendapatkan keinginanmu! Apa yang kau lakukan? Mari kita bersenang-senang!" kata kakek kesemua warga.
Pesta pun berlasung meriah, semua orang bersenang-senang dan menari bersama. Nenek Kim terus tersenyum dan terus memegang tangan cucunya. Oppa Junsu dan Youngshim pun tidak bertengkar kali ini.

Malam harinya dirumah nenek Kim. Youngshi sibuk membersihkan peralatan makan yang digunakan untuk pesta tadi. Oppa Junsu tiba-tiba datang menghampirinya.
"Apakah pekerjaanmu masih banyak?" tanya Oppa Junsu.
"Tidak, para ahjumma sudah banyak membereskannya sebelum aku" jawab Youngshim.
"Ah.. akhirnya ini berakhir! Aku hanya perlu bersikap baik kepada Orangtua besok dan kemudian pergi dari sini" kata Oppa Junsu senang.
Tapi Youngshim malah tampak tidak enang mendengar perkataan Oppa Junsu.
"Apakah kau sangat bahagia?" tanya Youngshim kesal.
"Tentu saja. Apakah kau pantat besar tidak bahagia? kau tidak perlu melihat ku lagi!" terang Oppa Junsu.
"Ya. Aku sangat senang. Kau brengsek!" jawab Youngshim kesal kemudian pergi meninggalkan Oppa Junsu sendirian (hoho.. ada yang mulai suka nih).
"Apa ada yang salah dengan dia?" kata Oppa Junsu tak mengerti sikap Youngshim.

Oppa Junsu keluar, ia melihat nenek Kim duduk diteras sendirian.
"Nenek! Apakah anda tidak bisa tidur?" tanya Oppa Junsu dan menghampiri nenek Kim. Nenek Kim hanya tersenyum kemudian ia mengambil sebuah bungkusan didalam kantong bajunya. Nenek Kim membuka bungkusan itu, ternyata isi bungkusan itu adalah permen. Oppa Junsu tampak kasihan melihat nenek Kim. Tapi nenek Kim terlalu senang melihat cucunya, ia dengan senang hati menguyahkan permen sebelum diberikan kecucunya. Ia juga memberikan sisa permen itu kepada Oppa junsu dengan penuh kasih sayang. Oppa Junsu menerima dengan senang hati dan terharu diperlakukan seperti itu. (Oh... so sweet..)

Malam semakin larut.

"Nenek! Nenek!" teriak Youngshim dari dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Oppa Junsu yang langsung masuk kekamar dan mendapati nenek Kim terbaring di kasurnya.
"Aku tidak tahu. Aku tadi mendengar beberapa suara, kemudian datang kesini dan mendapati ini" terang Youngshim.
"Nenek! Nenek!" panggil Oppa Junsu mencoba membangunkan nenek Kim.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang" kata Youngshim khawatir.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat panggil rumah sakit!" perintah Oppa Junsu.
"Tidak ada rumah sakit di sekitar sini. Hanya ada sebuah klinik kecil. Bahkan jika kita panggil mereka sekarang, mereka tidak akan menjawab" terang Youngshim.
"Nenek! Nenek!" panggil Oppa Junsu lagi.
Tapi nenek Kim tidak bereaksi. Oppa Junsu tidak bisa tinggal diam. Ia bergegas pergi keluar mencari bantuan. Youngshim mengikutinya dibelakang, tapi Oppa Junsu sudah pergi. Youngshim melihat sepatu Oppa Junsu tertinggal, ternyata Oppa Junsu lupa mengenakan sepatunya saking terburu-buru dan khawatirnya.

Oppa Junsu berlari kencang tanpa alas kaki mencari bantuan.
"Nenek, ku mohon tunggu sebentar. Hanya sebentar" batin Oppa junsu sambil terus berlari.

Akhirnya Oppa Junsu berhasil membawa seorang dokter kerumah nenek Kim. Kakak dan Ayang changmin pun juga datang.
"Bagaimana dia?" tanya Oppa Junsu kepada dokter.
"Ia sudah melewati masa krisisnya. Ini akan jadi serius jika bukan karena kau memanggilku anak muda" kata dokter sambil beranjak pergi.
"Terima kasih banyak" kata kakek.
Kakek dan ayang Changmin mengantar dokter keluar, Oppa Junsu pun ingin mengantarkan juga. Tapi tiba-tiab Youngshim menahannya.
"Mengapa kau memiliki sepatu kalau kau tidak akan memakainya" kata Youngshim sambil melihat kaki Oppa Junsu yang memerah.
"Ow ... saya beru sadar ternyata kakiku terluka.. Aow" kata Oppa Junsu.
"Apa? Tapi kau tampak baik-baik saja. Berikan kepadaku!" kata Yosungshim sambil menarik kaki Oppa Junsu.
Youngshim pun dengan lembut membersihkan kaki Oppa Junsu dengan handuk.
Oppa Junsu terus melihat Youngshim yang merawat kaki dengan penuh perhatian.
"Terima kasih" kata Oppa Junsu.
"Apa" kata Youngshim pura-pura tidak dengar.
"Ow! Hai Patat besar. Tidak dapat bisakah kau melakukannya dengan lembut?” kata Oppa Junsu.
Youngshim kesal dan menekan kaki Oppa Junsu dengan keras
“Ow ... " teriakn oppa Junsu terdengar oleh dokter, kakek dan Ayang Changmin yang berada diluar.

Hari terakhir Oppa Junsu dan Ayang Changmin.
"Ahjushi, ku mohon rawat nenekku dengan baik" kata oppa Junsu.
"Jangan khawatir" jawab kakek.
Ayang Changmin mengenakan sepatunya dan bersiap pergi. Tapi Oppa Junsu kelabakan karena sepatunya hilang.
“Sepatu ku" gumam Oppa Junsu sambil mencari-cari dikolong rumah.

Ayang Changmin berpamitan dengan kakek dan nenek ABC.
"Jaga kesehatanmu" kata Kakek kepada Ayang Changmin.
"Ya saya akan" jawab Ayang Changmin.
Nenek B menghampiri ayang Changmin, sambil membelai tangan Ayang Changmin ia berkata "Apa yang akan aku lakukan setelah kau pretty boyku pergi?"
Nenek A dan C pun mulai bergerak mendekati Ayang Chnagmin.
"Kau begitu cantik" kata nenek A sambil mencubit pipi Ayang Changmin.
Ayang Changmin mundur untuk menhindar dari kedua nenek itu, tapi lagi-lagi dibelakang sudah ada nenek C yang memegangi pantatnya.
"Untuk terakhir kalinya" kata nenek C sambil terus memgangi pantat Ayang Changmin (Hua... g rela.. g rela).
"Nenek!" kata Ayang Changmin putus asa.

Kembali ke Oppa Junsu yang masih sibuk mencari sepatunya.
"Ahjushii! Pernahkah kau melihat sepatuku?" tanya Oppa Junsu.
"Tidak, tidak pernah" jawab kakek.
"Humm" Tiba-tiba ada suara.
Oppa Junsu melihat kesumber suara. Ternyata itu adalah suara Youngshim. Ia berdiri dengan memeluk sebuah sepatu.
"Kau ..." kata Oppa Junsu.
Youngshim menghampiri Oppa Junsu dan memberikan sepatunya.
"Sepatu kotor jadi ..." kata Youngshim mencoba menjelaskan dengan muka sedikit sedih.
Oppa Junsu terlihat senang melihat sikap Youngshim kepdanya.

Sebuah motor traktor telah siap menunggu Oppa Junsu dan Ayang Changmin.
Ayang changmin dan Oppa Junsu memberikat penghormatan terakhir kepada para orang tua
"Kami akan pergi" kata Oppa Junsu pamit.
Youngshim berdiri agak jauh, ia terlihat sedih dan tidak terima Oppa Junsu pergi.
"Aku pergi. Bersenag-senaglah di sini" teriak Oppa Junsu kepada Youngshim.
"Kau akan ketinggalan bus. Cepat pergi!" kata Kakek dan nenek bersamaan.


Oppa Junsu dan Ayang Changmin menaiki motor traktor, tapi Youngshim masih berdiri dikejahun. Motor traktor pun mulai berjalan. Yoaungshim akhirnya tidak bisa tinggal diam, ia berlari mengejar motor traktor itu.
Tapi motor traktor itu tak bisa dikejar, Youngshim pun berteriak "Hei kau berengsek! kau harus menulis surat untuk kami! Okey!"
"Tentu. Bye!" balas Oppa Junsu sambil tersenyum.
Youngshim pun menangis sesegukan melepas Oppa Junsu dan Ayang Changmin.

Ah.. akhirnya selesai juga... pelajaran hari ini.. jangan pernah lupakan kasih sayang keluarga yang telah membesarkan kita selama ini.. berikan perhatian balik kepada mereka saat mereka sudah berusia lanjut..


Mian kalau bahasa jelek bin kacau... ah kenapa jadi seperti ini tiap nulis sinop tentang Ayang Changmin.. cekcek..

3 komentar:

  1. muhahahahaha, nih ye kalo sumin bersama selalu changmin yg di bully. dan krn kebodohannya junsu selalu ketiban sial.jd kangen mrk berlima spy junsu di bully sama yunho balik trus natar yunho di omelin jj. tgl yoochun geleng2 kepala.muhahahahaha, nih ye kalo sumin bersama selalu changmin yg di bully. dan krn kebodohannya junsu selalu ketiban sial.jd kangen mrk berlima spy junsu di bully sama yunho balik trus natar yunho di omelin jj. tgl yoochun geleng2 kepala.

    BalasHapus
  2. itu kenapa namanya ayang changmin ka mita, hahahahah
    kangen mereka semua DB5K

    BalasHapus
  3. yah gimana ya pril bawaannya gitu kalo liat ayang changmin.. hehe.. trus bhsnya jg jadi kacau kl mulis yg comedy gini..

    kak saa iya, ayang changmin suka dibully.. kasian.. tp ayang changmin sll tabah menerima..

    BalasHapus

Thanks for your coming, If you are helped by this blog, please leave a comment as a support to our staff....